Seperti diketahui, suporter Rusia dan Inggris sempat terlibat sejumlah bentrokan di jalanan kota Marseille sebelum kedua tim berhadapan, Minggu (12/6/2016) kemarin. Rusuh lantas berlanjut di dalam stadion.
Seusai laga, sekelompok suporter Rusia menyerbu kerumunan suporter Inggris di tribun. Insiden ini sendiri kemudian membuat UEFA menjatuhkan sanksi, bahwa jika terjadi kejadian serupa maka Rusia akan didiskualifikasi.
Media-media Inggris sendiri menyoroti tajam kericuhan tersebut dan potensi ancaman terjadinya lagi bentrokan di luar stadion. Salah satu aspek yang diangkat adalah bagaimana suporter Rusia bergerak sangat terorganisir untuk melakukan penyerangan, termasuk berkamuflase dan menggunakan sejumlah senjata.
Dzyuba pribadi menilai ada ketidakberimbangan dalam pemberitaan media-media Inggris, yang disebutnya memojokkan suporter Rusia dan mengonstruksi bahwa suporter Inggris tak bersalah. Pemain bertinggi 196 cm ini percaya suporter Inggris juga punya peran tak kecil memicu keributan.
"Saya benar-benar tidak memahami reaksi dari media Inggris, yang mengesankan bahwa suporter Inggris seperti malaikat yang bersikap baik,"
"Anda harus objektif, ada persentase 50-50 di setiap konflik. Saya tidak melihat bahwa suporter Rusia adalah satu-satunya yang salah."
Ya di video-video itu ada sejumlah agresi, tapi kita cuma melihat fragmen-fragmen. Tentu saja kita semua bisa menggabungkan fragmen-fragmen itu dan mempublikasikannya," imbuhnya.
Lebih jauh, Dzyuba menilai ada muatan politik dalam isu ini. Ini terkait posisi Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 mendatang.
"Kita bisa melihat hal-hal yang dibicarakan media-media Inggris, mengatakan bahwa mereka harus mengambil alih Piala Dunia dari Rusia. Ini soal politik,"







0 comments :
Posting Komentar