Home » » Berita Bookie " Deschamps dan Bab Baru Les Bleus "

Berita Bookie " Deschamps dan Bab Baru Les Bleus "


SBOBET ~ "I've always believed in my players. The ones I chose to form this group have repaid me handsomely, this is their story, their victory." (Didier Deschamps)

"Tak seorang pun dapat mengubah sejarah, namun ada sejumlah bab baru yang bisa ditulis dan para pemain bisa menuliskannya. Halaman ini sekarang kosong dan mereka harus mengisinya besok," begitulah ujar Didier Deschamps—sebagaimana dikutip oleh Independent—sehari sebelum Prancis menaklukkan Jerman 2-0 pada babak semifinal Euro 2016 di Stade Velodrome, Marseille, Jumat (8/7/2016) dinihari WIB.

Dan kata-katanya itu tidaklah sekadar motivasi kepada para anak asuhnya atau hanya sebentuk klaim, melainkan lebih kepada sebuah janji. Ya, janji yang harus dipenuhi.

Prancis berhasil mengalahkan sang juara dunia Jerman dan mengukir sejarah baru menjadi satu-satunya tim yang mampu melaju ke final dua kali dengan status sebagai tuan rumah. Sepanjang sejarah Piala Eropa, belum pernah ada kesebelasan tuan rumah yang sanggup mencapai final di dua edisi turnamen berbeda. Tetapi masih tersisa satu langkah lagi. Sekiranya mereka mampu menundukkan Seleccao das Quinas di Stade de France, Saint Denis, pada hari Minggu (10/7), tentu sejarah itu pun bakal kian sempurna: Mereka akan menyamai rekor Jerman dan Spanyol dengan tiga gelar Piala Eropa.

Jika melihat perfoma Tim Ayam Jago yang semakin prima seiring mendekatnya puncak turnamen, juga optimisme seorang Deschamps yang begitu besar, tampaknya gelar juara itu memang tinggal diraih di depan mata.

"Sudah sangat lama sejak kami mengalahkan Jerman tapi ini tidak berarti apa-apa. Kami menuju final dan ada trofi yang harus diraih," kata mantan kapten Marseille saat menjuarai Liga Champions 1993 itu.

Seperti yang ditulis Fox Sports, Didier Deschamps barangkali memang pelatih paling beruntung di dunia. Betapa tidak, dengan membawa Prancis keluar sebagai juara Euro kali ini, ia juga bisa mengukir rekor untuk dirinya sendiri sebagai orang pertama yang menjuarai Piala Eropa tiga kali. Ya, sebagai pemain, kapten, maupun pelatih.

Toh, keberuntungan itu bukanlah lantaran keberpihakan seorang "Dewi Fortuna", namun sungguh sebuah hasil kerja keras dan buah kejelian. Untuk mengantar skuatnya sampai ke babak final Piala Eropa 2016, berkali-kali ia mesti mengubah pola dan melakukan bongkar-pasang posisi pemain.

Mencari keseimbangan untuk Les Bleus memang tidaklah kelewat gampang. Sebagaimana diakuinya terus-terang kepada media, sejak mula Deschamps merasa kesulitan menentukan pemain inti dari 23 pemainnya yang siap tempur. Karena itu, ia pun lantas menggunakan situasi pertandingan untuk menguji skuat dan formasinya.

Pola 4-2-3-1 yang digunakannya saat mengalahkan Jerman awalnya gagal ketika ia terapkan melawan Albania. Kala itu, menyimpan Paul Pogba dan Antoine Griezmann di bangku cadangan, ia memasang Dimitri Payet sebagai gelandang serang di belakang Oliver Giroud dengan Anthony Martial di sayap kiri dan Kingsley Coman di sayap kanan. Namun eksprimen tersebut tak berjalan maksimal. Di babak pertama, nyaris tak ada tembakan ke gawang lawan yang dilakukan Prancis.

Deschamps tampaknya segera sadar dengan kesalahannya. Maka selepas turun minum, ia pun beralih kembali ke pola 4-3-3. Menarik keluar Martial dan Coman, ia memasukkan Pogba dan Griezman serta mengembalikan Payet ke posisi kiri seperti di klubnya West Ham United. Perubahan itu pun memberikan dampak pada intesitas serangan mereka sehingga Prancis menang 2-0 atas Albania.

Namun itu pun tak sempurna. Tatkala berhadapan dengan Republik Irlandia pada babak 16 besar di Lyon, Minggu (26/06), pola 4-3-3 ini ternyata mengalami kebuntuan. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh anak asuhnya kerap kandas di lini pertahanan Irlandia yang sudah unggul terlebih dulu berkat tendangan penalti Robby Brady di awal babak pertama.

Deschamps lagi-lagi memutuskan untuk mengubah taktiknya pada babak kedua. Ia mengganti N'Golo Kante dengan Coman, memutar Pobga ke lapangan tengah dan memainkan Griezman sebagai penyerang kedua di belakang Giroud dalam formasi 4-2-3-1. Kali ini pola itu membuat Prancis jauh lebih efektif dan akhirnya membuahkan dua gol yang dicetak oleh Grizzi (sapaan Griezman).

Ya, gonta-ganti taktik yang dilakukannya itu kontan menuai kritik bahwa Prancis tidaklah memiliki pakem formasi. "Hanya ada garis tipis antara keberanian Deschamps dan kebodohannya," demikian tulis sebuah media Inggris. Apa jawab Deschamps? Sederhana saja.

"Saya tidak berjudi dengan taktik permainan," katanya dalam jumpa pers. "Saya mengambil keputusan berdasarkan diskusi dengan pemain saya dan ketika keadaan tak berjalan dengan baik itu kesalahan saya. Saya orang yang bertanggung jawab di dalam tim. Mungkin, kami tidak seharusnya bermain dengan cara seperti ini. Siapa tahu?".

Menurut Deschamps, rotasi skuat yang ia lakukan merupakan hal lumrah. Hal itu juga dilakukan oleh tim-tim lain termasuk Jerman. "Satu-satunya kesebelasan yang tidak mengubah line-up adalah Kroasia. Orang-orang mengatakan mereka akan sampai di final. Namun itu tidak selalu berjalan seperti harapan. Mereka tersingkir," pungkasnya kalem.

Kejelian, keluwesan, dan demokratis. Tiga kata itu barangkali boleh kita sematkan pada seorang Deschamps, orang Prancis pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia tatkala Les Bleus memenangi Piala Dunia 1998.

Ia bukanlah seorang pelatih arogan yang enggan menerima masukan dari anak-anak asuhnya. Seperti yang diungkapkannya kepada media, para pemain pengganti juga dapat memberikan kontribusi untuk tim, bukan hanya sebagai pendukung untuk menjalankan taktik.

Bersetia pada taktik bagi Deschamps hanyalah sebuah kekonyolan dalam sepakbola modern. Bukankah tujuan akhir sepakbola adalah kemenangan dan sebuah taktik seyogianya diciptakan untuk meraih kemenangan itu? Karenanya, taktik notabene adalah sebuah usaha melakukan pembacaan terus-menerus terhadap seluruh kelemahan maupun kekuatan diri dan lawan; ia hanyalah alat untuk mencapai tujuan akhir. Tanpa kemenangan, tentunya takkan ada sejarah baru untuk dituliskan.

"Lawan kami hanya harus melihat di TV, bagaimana kami bermain, mereka akan tahu. Sangat penting untuk memiliki solusi yang berbeda," ujar Deschamps lebih lanjut.

Itu pula sebabnya, ia merasa perlu memetik pelajaran berharga dari setiap laga, bahkan setiap babak yang telah dijalani, untuk menghadapi babak atau pertandingan berikutnya.

Didier Deschamps memang bukan bintang lapangan seperti Zinedine Zidane, Youri Djorkaeff, atau Thierry Henry ketika masih menjadi seorang pemain. Bahkan sebagai kapten Les Bleus yang meraih dua gelar beruntun di Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, perannya dianggap tidaklah sebesar ketiga bintang di atas dalam mengantar kesuksesan si Ayam Jago.

Tetapi toh harus diakui, mantan gelandang dan arsitek Juventus ini memiliki talenta sebagai pemimpin yang cukup mumpuni di dalam maupun di luar lapangan. Bukankah satu-satunya gelar yang pernah diperoleh Marseile di Liga Champion (1992/93) adalah saat ia menjadi kapten? Bukankah pula Les Bleus harus mengalami puasa gelar internasional pasca dirinya pensiun selepas Euro 2000?

Deschamps sendiri agaknya insyaf benar akan hal ini. Seperti yang pernah dikatakannya kepada Reuters, "Permainan saya tidak pernah spektakuler. Jadi, saya harus mencari kompensasi di sektor lain."

Dan sektor itu adalah sektor manajerial. Di sinilah kiranya ia kemudian menemukan tempat yang tepat setelah masa kejayaannya sebagai pemain berlalu seiring usia. Lihat saja, dari tiga klub yang ia tangani (AS Monaco, Juventus, dan Marseille), bisa dikatakan semuanya mencapai hasil yang cukup menggembirakan: AS Monaco menjuarai Coupe de la Ligue 2003 dan lolos ke final Liga Champion, Juventus meraih promosi, dan Marseille merengkuh enam gelar.

"Fakta bahwa Deschamps telah memenangi banyak gelar menjadi keuntungan bagi kami. Ia akan membawa serta pengetahuannya. Ia tahu bagaimana cara terbaik untuk menjadi juara karena pernah mengalaminya sendiri. Kami mafhum betapa penting dan berharganya masukan darinya. Terutama memasuki masa-masa akhir turnamen," kata Dimitri Payet.

Ya, kendati sejak dipercayai menangani timnas negaranya pada 8 Juli 2012 menggantikan Laurent Blanc, pria kelahiran Bayonne, 15 Oktober 1968 ini belumlah berhasil membawa Prancis meraih prestasi. Kesempatan pertama yang ia peroleh, yakni pada Piala Dunia 2014, harus berakhir di tengah jalan setelah si Ayam Jago takluk 0-1 dari Jerman di perempatfinal.

Namun begitu, toh Deschamps dinilai mengantongi catatan yang baik. Karena itu, Fédération Française de Football (FFF) pun memutuskan untuk mempertahankannya. Dan kepercayaan itu memang tidak disia-siakan oleh Deschamps.

Payet benar. Deschamps agaknya memang paham betul bagaimana cara mengatasi setiap persoalan di skuat asuhannya yang belum sepenuhnya menunjukkan kualitas sebagai tim unggulan ketika pluit Euro 2016 ditiupkan itu. Contohnya, dengan memasang Laurent Koscielny dan Samuel Umtiti (yang menggantikan Adil Rami) sebagai duet, bukannya Eliaquim Mangala pada saat Raphael Varane tak bisa bergabung, terbukti menjadi pilihan terbaik bagi lini belakang si Ayam Jago.

Dan tentu saja, keberaniannya melakukan perubahan-perubahan strategi di tengah laga, seyogianya membuktikan kepada kita bahwa dirinya memang seorang arsitek matang yang jeli membaca situasi dan kondisi di atas lapangan guna memetik kemenangan.

"Kami bermain di Prancis, di negara kami sendiri, dan kami akan mengerahkan segalanya. Kami harus mengingat bahwa segalanya itu mungkin," tukasnya tegas.

Selain kritikan terhadap gonta-ganti pola yang ia lakukan di separuh jalan, ketegasan Deschamps kala mencoret nama Karim Benzema dan Hatem Ben Arfa sebelumnya juga sempat menuai tuduhan rasialis. Sebuah isu yang kita tahu tidaklah baru dalam pesepakbolaan Prancis.

Dan tuduhan itu tak tanggung-tanggung datang dari Benzema sendiri. Bintang Real Madrid itu menuding bahwa keputusan Deschamps tidak mengikutsertakan dirinya ke dalam skuat Les Bleus seyogianya mengandung unsur politik. Yakni, adanya intervensi dari partai politik kanan yang rasial.

"Ia telah tunduk pada tekanan dari bagian rasis Prancis," demikian kata Benzema kepada Marca. Kontan, komentar ini memicu kemarahan Presiden FFF Noel Le Grael. Dan situasi kemudian jadi kian memanas ketika legenda sepakbola Prancis, Eric Cantona, turut berbicara membela Benzema. Menurut mantan superstar Manchester United itu, Benzema memiliki alasan dan hak yang kuat untuk berpendapat demikian.

"Saya tidak terkejut dengan komentar Benzema. Ia hanya mengatakan bahwa keputusan Deschamps dipengaruhi oleh opini publik, yang merupakan akibat dari iklim politik saat ini di Prancis," katanya sebagaimana dikutip Soccerway. Cantona pun mengeluarkan dugaan bahwa tidak masuknya Benzema dan Ben Arfa lantaran keduanya merupakan keturunan Afrika Utara.

Tetapi tuduhan itu tetap saja tak memiliki alibi yang kuat. Selain terdapat sejumlah pemain keturunan dalam skuat Deschamps, semisal Bacary Sagna, Adil Rami, Paul Pogba, Kante dan Moussa Sissoko—Benzema tidak dipanggil lebih karena alasan tindakan disipliner FFF akibat keterlibatannya dalam skandal dugaan pemerasan terhadap rekannya, Mathieu Valbuena.

Bacary Sagna, bek Manchester City, adalah salah satu pemain Les Bleus yang kemudian angkat suara membantah tudingan rasis terhadap Deschamps tersebut.

"Pelatih tidak rasialis," katanya. "Saya pikir di skuat kami tidak ada masalah. Justru, Cantona yang melakukan kritik salah sasaran. Ia bisa merusak suasana jelang turnamen berlangsung. Saya seorang pria berkulit hitam, salah satu keturunan Maghreb. Jadi saya tidak berpikir ada rasialisme di sini."

Ya, karenanya Deschamps memang tak perlu menghiraukan kecaman-kecaman negatif itu. Ia, kiranya hanya perlu memikirkan janjinya kepada rakyat Prancis. Janji untuk menulis bab baru bagi sejarah pesepakbolaan negeri dengan semboyan "Liberté, égalité, fraternité" itu bersama seluruh skuatnya.

Share this article :

0 comments :

www.pokeryuks.com

 

© AGEN BOLA ONLINE | CASINO ONLINE | TOGEL ONLINE | TANGKAS | AGEN BOLA TERPERCAYA
| © SukaJudi88 |