Sbobet ~ Tak diunggulkan dan punya materi pemain di bawah Belgia, Italia justru berhasil menang dua gol tanpa balas. Berikut kunci kemenangan Gli Azzurriatas The Red Devils.
Italia menunjukkan kelasnya sebagai salah satu kekuatan Eropa pada pertandingan pertama mereka di turnamen. Menghadapi Belgia yang sebelumnya diprediksikan akan menjadi tim kejutan pada Piala Eropa kali ini, Italia menang meyakinkan dengan skor 2-0.
Italia sudah unggul pada babak pertama, tepatnya pada menit ke-32, lewat gol Emanuele Giaccherini. Penyerang Southampton, Graziano Pelle, melengkapi kemenangan Italia lewat tendangan volinya di pengujung pertandingan.
Hasil ini merupakan buah dari strategi pelatih Italia, Antonio Conte, yang membuat kocar-kacir pertahanan Belgia yang diasuh Marc Wilmots. Belgia sendiri kesulitan membongkar pertahanan Italia yang bermain sangat baik pada laga ini.
- Cara Italia Membendung Serangan Belgia
Namun yang perlu diketahui, serangan Belgia tak seefektif serangan Italia. Jika Italia mencatatkan enam tembakan on target dari 12 tembakan, Belgia hanya mencetak tiga tembakan on target dari 18 tembakan.
Lini pertahanan Italia memang bermain sangat apik pada laga ini. Belgia kesulitan masuk ke kotak penalti Italia. Upaya tembakan yang dilakukan para pemain Belgia mayoritas dilakukan dari luar kotak penalti, di mana kemudian setengah dari total tembakan yang dilepaskan Belgia berhasil diblok para pemain Italia.
- Grafis tembakan Belgia yang mayoritas berasal dari luar kotak penalti (via:Squawka)
Ketika tak menguasai bola, para pemain Italia tak langsung memainkan garis pertahanan rendah. Namun secara perlahan transisi bertahan dilakukan dari 3-5-2 menjadi 5-3-2. Lima pemain yang berada di garis terakhir pertahanan tetap pada posisinya masing-masing. Sementara tiga gelandang dan dua penyerang, terus bergerak mengikuti arah bola meski tidak melakukan tekel agresif.
Saat bola serangan Belgia masih berada di area pertahanan Belgia, pemain terdepan Italia menunggu di garis tengah lapangan, tidak melakukan pressingatau mundur hingga ke depan kotak penalti. Bersama dengan alur bola serangan Belgia, seluruh pemain lapangan Italia pun mundur perlahan dengan tetap menjaga kerapatan, mengandalkan dua penyerang terdepan yang memberikan pressing pertama.
- Salah satu situasi yang memperlihatkan bentuk pertahanan Italia
Ketika bola sudah dipindahkan ke sayap (gambar 2), seluruh pemain Italia pun dengan rapi mengikuti bola dan menjaga jarak antar pemain. Pada gambar 2 di atas terlihat sisi kanan Italia ditinggalkan kosong untuk memberikan tekanan pada pemain yang menguasai di sisi kiri pertahanan Italia. Laurent Ciman, bek kanan Belgia yang menguasai bola, jika melihat gambar di atas, cukup kesulitan untuk melakukan penetrasi maupun memberikan bola pada pemain tengah.
Maka cara yang sering Belgia lakukan adalah dengan sering mengirimkan umpan silang. Tercatat Belgia melepas 34 umpan silang (delapan berhasil) pada laga ini. Namun hanya sesekali saja pemain yang menyambut umpan silang langsung menciptakan peluang.
Umpan silang Belgia pada laga ini disambut dengan memberikan bola ke pemain tengah untuk kemudian melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Dengan rapatnya jarak antar pemain, tak mengherankan jika pada akhirnya tembakan-tembakan jarak jauh Belgia lebih sering membentur para pemain Italia.
Italia Mengandalkan Sayap dan Tempo Cepat
Tak ada yang menyangka apa yang ditampilkan Italia ketika melakukan serangan semalam. Biasanya, Italia bermain dengan mengatur ritme, bermain sabar membangun serangan dari belakang, sebelum akhirnya menciptakan peluang atau mencetak gol.
Namun pada laga melawan Belgia semalam, Italia tampil spartan. Tempo cepat selalu diperagakan ketika menguasai bola. Tak hanya lewat umpan-umpan pendek, umpan-umpan panjang ke kedua flank pun kerap dikirim untuk mempercepat aliran bola.
Jika ketika bertahan Italia menggunakan formasi dasar 5-3-2, saat menyerang, Italia mengubah formasi menjadi 3-3-4 bahkan 1-3-2-4. Darmian dan Candreva yang diplot sebagai wing-back, sering menunggu di area final third meski bola serangan Italia masih berada di belakang.
- Bentuk dasar Italia saat menyerang menggunakan 1-3-2-4 (gambar via: @marcotti)
Dengan empat pemain berada di barisan terdepan, hal ini mengecoh bentuk pertahanan Belgia yang menggunakan formasi dasar 4-2-3-1. Merapatkan pemain di tengah pun menjadi sia-sia buat Belgia karena dari belakang, Italia punya Daniele De Rossi dan Leonardo Bonucci yang mendapatkan tugas sebagai pengirim umpan panjang ke kedua sayap ataupun langsung ke jantung pertahanan.
Pada gol pertama yang diciptakan Giaccherini, terlihat bagaimana Bonucci menjadi pemain yang mengirimkan asis pada pemain yang dipinjam Bologna pada putaran terakhir Serie A ini. Para pemain Belgia tampak tak siap dengan alur operan Bonucci yang biasanya dikirim ke kedua sayap. Kelengahan inilah yang berhasil dimanfaatkan Giaccherrini untuk mencetak gol.
Perubahan skema tak dilakukan oleh Conte pada babak kedua. Pergantian pemain dilakukan hanya untuk melakukan penyegaran di area-area tertentu. Karenanya Conte hanya melakukan pergantian sayap oleh sayap (Darmian-De Sciglio), gelandang oleh gelandang (De Rossi-Motta), dan penyerang oleh penyerang (Eder-Immobile).
Hal ini dilakukan agar tempo cepat yang diperagakan Italia tetap terjaga agar saat bertahan stamina para pemain Italia pun tidak terlalu terkuras. Dengan adanya pemain pengganti sebenarnya Conte ingin anak asuhnya tetap menjaga keunggulan dengan adanya pemain dengan stamina yang lebih prima.
Wilmots merespon situasi ketertinggalannya tersebut dengan menambah daya serang. Ia lantas memasukkan Divock Origi, Dries Mertens, dan Yannick Ferreira Carrasco untuk menggantikan Romelu Lukaku, Radja Nainggolan, dan Laurent Ciman.
Masuknya Carrasco menggantikan Ciman pada menit ke-74 membuat Belgia bermain dengan formasi dasar 3-4-3. Namun ini justru menimbulkan celah di lini pertahanan Belgia. Perubahan ini membuat Italia berhasil mengunci kemenangan dengan menambah keunggulan.
Berawal dari Giaccherrini dari sisi kiri, serangan balik cepat dilancarkan di mana kemudian bola dialihkan ke sisi kanan. Para pemain Belgia yang panik pun terpancing dengan mengikuti alur bola. Di sanalah Candreva dengan cerdik memberikan umpan silang pada Pelle yang tidak terkawal. Pelle pun dengan leluasa menaklukkan kiper Belgia, Thibaut Courtois, dengan tembakan voli kerasnya.
Kesimpulan
Belgia kalah kelas dari Italia pada laga ini. Golden Generation mereka tak berkutik menghadapi strategi Conte baik katika bertahan maupun menyerang. Absennya Vincent Kompany dan Nicolas Lombaerts pun menjadi salah satu alasan lini pertahanan Belgia lemah.
Pergantian yang dilakukan Wilmots tak begitu efektif yang malah justru melahirkan gol kedua Italia. Sementara Conte berhasil menjaga tempo cepat anak asuhnya dengan hanya melakukan penyegaran di lini tengah, sayap, dan penyerang.
Italia memang tampil sempurna pada laga ini. Serangan mereka begitu membahayakan dengan mengandalkan tempo cepat melalui kedua flank.
Sementara gaya bertahan mereka yang bisa menjaga kerapatan antar pemain pun membuat Belgia harus gigit jari menelan kekalahan pada laga pertama mereka di Piala Eropa kali ini.











0 comments :
Posting Komentar