Agen Judi Online ~ Mereka adalah para underdog; gagal dan dibuang oleh klub lain. Namun, kini mereka boleh tersenyum karena sedang membangun kesuksesan bersama Leicester City.
Kesuksesan Leicester memang layak dirayakan. Pasalnya, musim lalu mereka masih berjuang untuk lolos dari jerat degradasi. Namun, musim ini, usai menang 2-0 atas Sunderland, Minggu (10/4/2016) malam WIB, The Foxes sukses memastikan diri finis di empat besar.
Dari belakang hingga lini depan, Leicester berisi para pemain yang dulunya harus berkutat dengan ke-semenjana-an, para pemain yang kerap bergonta-ganti klub atau dipinjamkan ke klub-klub lain oleh klub induk mereka.
Kini, mereka bersatu di bawah arahan pelatih yang belum pernah menjuarai liga, untuk menggapai mimpi.
Kasper Schmeichel
![]() |
Putra dari kiper legendaris asal Denmark, Peter Schmeichel, ini mengawali kariernya di Manchester City. Ia sempat mencicipi bermain di Premier League selama sekitar dua musim, kendati hanya bermain sebanyak 10 kali.
Setelahnya, Schmeichel bermain dari satu klub pinjaman ke klub pinjaman lain, mulai dari Cardiff hingga Coventry City di Championship. Ia kemudian dijual ke Notts County yang kala itu bermain di League Two (level keempat dalam piramida sepakbola Inggris), sebelum akhirnya pindah ke Leeds United pada tahun 2010. Setelah semusim bermain di Leeds, Schmeichel pindah ke Leicester pada tahun 2011.
Ia ikut berkutat di Championship bersama Leicester, sebelum akhirnya kembali ke Premier League musim lalu. Kini, Schmeichel sudah berusia 29 tahun, setahun lebih tua dari sang ayah ketika dibeli Manchester United dari Brondby.
Belum ada kata terlambat bagi Schmeichel untuk berprestasi, kendati usianya kini sudah tak muda lagi. Umur karier kiper terbilang lebih panjang dibandingkan pemain-pemain di posisi lain. Selain itu, lihatlah Schmeichel Senior; ia sukses bersama Manchester United di usia 30-an.
Robert Huth
![]() |
Huth hengkang dari Chelsea lantaran minim kesempatan bermain di Chelsea. Namanya baru benar-benar mencuat di Inggris ketika bermain sekitar 3 musim untuk Middlesbrough dan sekitar 5 musim bersama Stoke City. Pada musim 2014/2015, ia dipinjamkan ke Leicester City dan dari situlah cerita indah untuknya bermula.
Huth juga sempat hampir bergabung dengan Newcastle United. Tetapi, pelatih tim utama Newcastle ketika itu, John Carver, menyebutnya terlalu tua. Huth kini memang sudah berusia 31 tahun.
Musim ini, Huth kembali bertemu dengan pelatih yang pernah menanganinya di Chelsea, Claudio Ranieri. Dari 33 pertandingan musim ini, Huth tampil 32 kali. Dalam 32 laga itu, ia selalu bermain sebagai starter dan tampil 90 menit. Duetnya bersama Wes Morgan di lini belakang menjadi karang kokoh untuk Leicester.
Wes Morgan
![]() |
Wes Morgan tampak terlalu besar dan terlalu lambat. Tapi, bersama Robert Huth, Morgan terbukti mampu melindungi pertahanan timnya dengan baik.
Morgan lahir di dan besar di Meadows, sebuah distrik di Nottingham, 32 tahun lalu. Meadows dikenal dengan jalan-jalan yang sempit, jalur kereta api, dan banyak pabrik di abad ke-19 dengan banyak problem sosial.
Sepakbola-lah yang kemudian menyelamatkan Morgan dari perkelahian, obat-obatan, pisau, dan senjata. Ia juga cukup sadar betapa pentingnya pendidikan hingga memutuskan untuk kuliah bisnis di South Notts College untuk menjadi akuntan.
Danny Simpson
![]() |
Danny Simpson adalah pemain jebolan akademi Manchester United. Namun, ia tidak pernah bisa menembus tim utama atau mempermanenkan tempatnya di skuat senior. Hanya 8 kali ia bermain di tim utama United dalam kurun waktu 2005 hingga 2010. Simpson lebih sering dipinjamkan ke klub lain, mulai dari Royal Antwerp di Belgia hingga Sunderland, Ipswich Town, Blackburn Rovers, dan Newcastle United.
Ia baru benar-benar menjadi pemain utama ketika bermain untuk Newcastle. Namun, The Magpies melepasnya ke Queens Park Rangers pada tahun 2013. Eks pelatih tim utama Newcastle, John Carver, menyebut Simpson tidak lagi dibutuhkan sehingga akhirnya dilepas ke QPR.
Setelah bermain semusim untuk QPR, ia pindah ke Leicester pada tahun 2014. Musim ini, ia bermain 25 kali untuk Leicester, di mana 22 di antaranya bermain penuh.
Danny Drinkwater
![]() |
Sama seperti Simpson, Drinkwater adalah jebolan akademi Manchester United. Dan sama seperti Simpson juga, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di United sebagai pemain pinjaman di klub-klub Championship dan League One.
Leicester akhirnya membelinya pada musim 2011/2012 dan sejak saat itu, Drinkwater menjadi pemain inti bagi mereka. Drinkwater juga ikut berjuang di Championship bersama Leicester sebelum akhirnya naik ke Premier League musim lalu. Performa apiknya bersama Leicester musim ini membuatnya masuk ke tim nasional Inggris.
Marc Albrighton
![]() |
Karier Marc Albrighton di Inggris lebih banyak dihabiskan bersama Aston Villa. Namun, setelah bermain sebanyak 19 kali di musim 2013/2014, plus bermain sebagai pemain pinjaman untuk Wigan selama sekitar sebulan, Albrighton dilepas oleh Villa.
Leicester kemudian menampungnya pada awal musim 2014/2015. Musim ini, ia adalah salah satu tumpuan serangan dari Leicester. Jika Riyad Mahrez menggunakan dribel dan trik sebagai senjatanya dari sisi kanan, Albrighton kerap melepaskan umpan silang dari sisi kiri.
Musim ini, Albrighton sudah mengkreasikan 60 peluang untuk Leicester. Menurut catatan Squawka, ia adalah kreator peluang terbanyak bagi Leicester musim ini, bahkan lebih banyak dari Mahrez yang "baru" mengkreasikan 49 peluang.
Claudio Ranieri
![]() |
Sepanjang kariernya sebagai manajer, Claudio Ranieri belum pernah meraih gelar juara liga utama, kendati pun ia punya nama bagus di dunia kepelatihan. Seringkali ia disebut-sebut sebagai spesialis runner-up.
Penunjukannya sebagai pelatih Leicester di awal musim ini terbukti tepat. Ranieri mengaku, sebagai orang Italia, ia tidak bisa melepaskan diri dari soal taktik-taktik rumit. Namun, ia berhasil meramu dan mengadaptasinya dengan kultur Inggris yang juga mengandalkan fisik dan kecepatan.
Alhasil, Ranieri pun sukses membawa Leicester ke puncak klasemen Premier League hingga pekan ke-33. "Tim ini tidak boleh berhenti berlari," ujarnya menyoal gaya permainan The Foxes.














0 comments :
Posting Komentar